Polresta Surakarta- Polda Jateng– Di balik sosok Kapolresta Surakarta AKBP Condro Sasongko yang dikenal dekat dengan masyarakat, tersimpan pesan sederhana namun penuh makna dari sang ibunda tercinta. Pesan itulah yang terus dipegang teguh oleh perwira menengah Polri yang akrab disapa Mbah Con tersebut dalam menjalankan tugas dan pengabdiannya.
“Ojo medit, ojo dumeh, sing sumeleh.” Tiga pesan berbahasa Jawa yang mengajarkan agar tidak pelit dalam berbagi, tidak sombong atau mengedepankan ego meski memiliki jabatan, serta senantiasa berlapang dada dan mudah memaafkan.
Bagi AKBP Condro Sasongko, pesan sang ibunda bukan sekadar nasihat yang didengar dan diingat, melainkan nilai kehidupan yang harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
Hal itu terlihat dari gaya kepemimpinannya yang sederhana, terbuka, dan penuh keakraban, baik saat menjalankan tugas di tempat penugasan sebelumnya maupun kini ketika dipercaya menjadi orang nomor satu di jajaran Polresta Surakarta.
Sejak menjabat sebagai Kapolresta Surakarta, Mbah Con aktif turun langsung menyapa masyarakat. Bukan hanya menghadiri kegiatan formal, tetapi juga mendatangi warga kurang mampu, para janda, lanjut usia, hingga penyandang disabilitas.
Dalam berbagai kesempatan, ia menyerahkan bantuan sembako dan santunan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan.
Menariknya, setiap pertemuan hampir selalu diwarnai suasana hangat. Dengan gaya jenaka dan celetukan khasnya, Mbah Con kerap mengajak warga bercanda, berdialog, bahkan mendengarkan cerita kehidupan mereka.
Tak jarang, suasana yang semula formal berubah menjadi penuh tawa dan keakraban. Baginya, kedekatan dengan masyarakat tidak harus dibatasi oleh pangkat maupun jabatan.
Sikap serupa juga ditunjukkan kepada anggota kepolisian. Ia berusaha membangun suasana guyub rukun, saling menghargai, dan mengedepankan kebersamaan dalam menjalankan tugas.
Kapolresta Surakarta AKBP Condro Sasongko mengatakan, pesan ibundanya menjadi pengingat agar dirinya tidak pernah lupa bahwa jabatan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan hati.
Menurutnya, nilai ojo medit mengajarkan pentingnya berbagi dan membantu sesama. Sementara ojo dumeh menjadi pengingat agar seseorang tidak merasa lebih tinggi hanya karena memiliki pangkat, kedudukan, atau kewenangan. Adapun sing sumeleh mengajarkan keikhlasan, kerendahan hati, dan kemampuan memaafkan.
Nilai-nilai tersebut menjadi landasan dalam membangun hubungan yang harmonis, baik dengan masyarakat maupun anggota yang dipimpinnya.
Bagi Mbah Con, keberhasilan seorang pemimpin bukan semata diukur dari tingginya jabatan atau banyaknya penghargaan, melainkan juga dari seberapa besar kehadirannya mampu memberikan manfaat bagi orang lain.
Pesan sederhana dari seorang ibu itu seolah menemukan maknanya dalam setiap langkah pengabdian Mbah Con.
Sebab, setinggi apa pun pangkat yang disandang dan sebesar apa pun jabatan yang dipercayakan, seorang anak tetaplah membawa doa, nasihat, dan didikan ibunya.
Dan bagi Mbah Con, cara terbaik membalas pesan penuh kasih tersebut adalah dengan menjadikannya tindakan nyata: berbagi tanpa pamrih, memimpin tanpa kesombongan, serta merangkul sesama dengan hati yang lapang.




